just some sprouting thoughts

ignore the cover, just read!

ReviewReviewReviewThe PhotographJul 8, '07 1:41 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
"Janji pada leluhur harus ditepati," demikian jelas Johan kepada Sita. Itulah inti dari film berdurasi 95menit ini, yakni upaya Johan untuk menepati janji pada leluhur mencari pengganti dirinya sebagai juru foto. Pekerjaan juru foto dilakukan Johan sebagai warisan turunan dari ayahnya, dan ayah nya pun melakukan nya sebagai warisan turunan dari kakeknya. Maka tiba saatnya Johan menyadari, dirinya sudah semakin tua dan butuh pengganti. Siapakah yang kemudian akan menggantikannya? Well, akhir dari cerita ini tentunya dengan mudah dapat ditebak bukan? Lalu ngapain nonton? Heheheh....

Sepertinya sang pembuat film tidak terlalu peduli apabila penonton sdh dapat menebak akhir ceritanya dengan gampang. Jadi, akhir cerita tidak menjadi pokok utama cerita dalam film ini. Selama 95 menit the Photograph lebih banyak bercerita mengenai bagaimana proses pencarian Johan akan penggantinya di antara geliat kota tua pecinan Semarang dan kehidupan di dalamnya, serta cerita tentang Sita memperjuangkan hidupnya. Di akhir cerita, tentunya sudah tertebak siapa yang akan menggantikan Johan. Namun tetap salut pada bagaimana sang pembuat cerita memutuskan adegan terakhir untuk mengakhiri film ini. Sungguh menyentuh dan tidak biasa.... kalau tidak bisa dibilang agak ganjil...

Bila ada yang sangat luar biasa mengenai film ini, adalah sinematografinya yang sangat memikat hati. Menonton film ini serasa menyaksikan photo essay yang sangat indah mengenai pecinan Semarang. Tidak ada satu adegan pun yang angle adegannya tidak dipikirkan dengan serius. Kontras warna sangat juga diperhatikan baik, dengan pemilihan kostum dengan warna warni yang melebur dengan indah dalam nuansa pecinan. Sungguh, semuanya sangat cermat, indah dan rapi. Membuat saya jadi ingin ke Semarang....

Asal tidak bosan dengan sinematografinya, maka 95 menit akan menjadi cukup singkat dan termaafkan untuk jalan cerita yang berlangsung sangat lambat, dengan tanpat konflik, suspense ataupun klimaks. LIM KAY TONG asal Singapura memerankan Johan yang tua dan sakit sakitan dengan cukup baik. Namun aksen bahasa Indonesianya terdengar sedikit aneh, tapi mungkin apa begitu lah aksen seseorang keturunan Cina totok di Semarang?

Sedangkan SHANTY memerankan Sita, penyanyi karaoke yang sangat merindukan anak nya dan terpaksa bekerja pula sebagai PSK untuk menebus hutang dan mengumpulkan uang guna membawa keluarganya ke Semarang. Saya sangat suka karakter Shita, sayangnya saya merasa Shanti tidak berhasil meleburkan dirinya pada karakter Shita. Mungkin neng Shanty terlalu banyak main film akhir2x ini, sehingga bermain kurang total di The Photograph. Saya jadi tidak bisa berempati pada penderitaannya atau pun kecerdasannya. Atau, ya... apa memang neng Shanti gak cocok aja memerankan karakter Shita (Saya kok malah membayangkan Kinaryosih yaa??)

Seperti biasa, saya selalu cinta penampilan LUKMAN SARDI dan tidak pernah bosan juga melihat mas2x satu ini yang berturut2x main terus di banyak film baru. Sayangnya di film ini, beliau hanya kebagain adegan teriak2x dan kejar2xan dengan Shita. Karakter nya kurang di eksplore lebih jauh, sehingga sebenarnya gak perlu seorang Lukman Sardi yang main juga gak kenapa2x koq.

Dengan mengejutkan, penampilan perdana INDI BARENDS juga cukup baik. Jenk Indi memerankan saudara Shita yang bekerja sebagai seorang penjahit. Secara umum, bintang 31/2 untuk film ini. Sekali lagi, film ini sangat indah dan hanyalah ingin bercerita mengenai sebuah proses.... maka ikuti saja dengan pasrah di cineplex kesayangan anda, jangan sampai ketiduran yaaa :))


SINOPSIS: THE PHOTOGRAPH

Sita (25 tahun), penyanyi di sebuah karaoke bar, baru saja pindah ke sebuah kamar di loteng sempit. Kamar itu terletak di sebuah rumah yang merangkap sebagai studio foto milik Johan (50 tahun), seorang juru foto keliling keturunan Tionghoa.

Sita juga kerja sambilan sebagai pekerja seks untuk membayar hutangnya kepada Suroso, germo yang membawa Sita ke kota. Ia juga ingin mengumpulkan cukup uang untuk dapat membawa anaknya, Yani, ke kota.

Suatu kali, ia diperkosa dan dipukuli oleh sekumpulan pelanggan yang mabuk. Johan menyelamatkan Sita. Sita memutuskan untuk tidak akan kembali bekerja di bar dan memohon untuk menjadi pembantu Johan karena ia tidak sanggup membayar sewa kamar.

Sita kemudian mengetahui bahwa Johan hanya akan hidup beberapa bulan lagi. Ia membantu Johan memenuhi tiga keinginan terakhirnya, yang diwakili oleh keberadaan tiga potret. Salah satu keinginan yang terpenting adalah pencariannya untuk mendapatkan juru foto pengganti dirinya.

Namun pada suatu hari, Johan murka karena Sita menemukan rahasia masa lalunya dan membuka cerita dibalik ketiga foto tersebut. Setelah Johan murka, akankah dia berhasil mendapatkan sang pengganti? Dan akankah kemarahan Johan membuat Sita terperangkap lagi dalam jeratan Suroso?

Jenis Film: DRAMA
Pemain: LIM KAY TONG, SHANTY, LUKMAN SARDI, INDI BARENDS
Sutradara: NAN ACHNAS
Penulis: NAN ACHNAS
Produser: PAQUITA WIDJAJA-AFIEF, SHANTY HARMAYN
Produksi: TRIXIMAGES/SALTO FILMS/ LES PETITES LUMIERES
Homepage: http://www.thephotographmovie.com/
Durasi: 95 min


ReviewReviewReview3 hari untuk selamanya....Jul 3, '07 1:19 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Drama
"umur 27 tahun adalah umur yang menentukan.... di usia 27 tahun, banyak orang mengambil keputusan besar dalam hidup.... misalnya Janis Joplin, Jim Morisson, Jimi Hendrix, Kurt Cobain ... semua memutuskan untuk mati saja di usia 27 tahun….," demikian jelas Yusuf (Nicholas Saputra) kepada sepupunya Ambar (Adinia Wirasti) di pagi buta saat menunggui gerbang Sendangsono dibuka dalam rangkaian tiga hari mereka menuju Jogya.

hmm, pernyataan yang cukup menarik untuk di eksplorasi lebih jauh, namun alamak.... lagi lagi kembali menguap begitu saja diantara kepulan asap entah rokok entah ganja yang di sepanjang film mengebul-ngebul dengan ganas seperti kompor panas yang ditutupi kain pel basah, dan menimbulkan pertanyaan besar, emang bisa yaaaa.......... mabok2x nyetir!?!?

maka dari awal saya jadi sedikit bermasalah dengan cara penggambaran permasalahan remaja dan drugs dalam film ini. iya deeeh.... ngerti...ngerti... permasalahannya seperti apa... tapi kaya nya adegan Yusuf teler menghirup bong bersama groupies band indie di bandung itu sdh lebih dari cukup kok... tapi seterusnya kok sepertinya dibuat terlalu berlebihan yaaa.... masa sepanjang jalan terus ngeganjaa... harusnya tampang nya gak bakal selalu waras, manis dan ganteng di sepanjang perjalanan seperti dalam film ini tho!?!?

lalu kembali lagi ke persoalan dialog...., saya kok merasa ada yg gak tuntas ketika selesai nonton film ini. padalah saya sangat suka permainan yang ditampilkan kedua tokoh utama nya. baik nicholas dan ardinia bermain sangat natural sebagai dua remaja yang masing-masing memiliki pergulatan tersendiri dalam pencarian jati diri nya. chemistry nya sangat baik, dialog-dialog nya berjalan lancar dan interaksi mereka berdua pun terlihat sangat wajar, selayaknya dua remaja masa kini laaah... pas banget...

tapi yaaah....mungkin memang susah kali yaa... membuat film yang beban utamanya adalah pada interaksi dan dialog para tokoh utama-nya.... maksudnya film ini kan mau menawarkan dialog ngalur ngidul sepanjang tiga hari menuju yogya... yang memang pada umumnya kita lakukan bila melakukan hal yang sama.... tapi sekilas kesimpulan yang bisa saya ambil setelah menonton film ini adalah.... sepertinya terlalu banyak hal yang ingin disampaikan atau diangkat oleh Riri Riza.... dan walaupun semuanya adalah permasalahan yang sangat menarik... namun treatment-nya jadi setengah-setengah.... gak ada satu pun yang tuntas taasss... sehingga penonton (at least, i...) jadi selalu gagal untuk klimaks di dua jam penantian dalam cineplex (cepee deeee...)

seharusnya percakapan di sendangsono bisa menjadi klimaks, tapi entah mengapa malah ngambang lagi... dan film pun masih berlanjut dengan rangsangan2x baru... seperti adegan percakapan dengan bunda maria, curhat2xan di tp parkir, dst dst dst.... ah jadi basi .... (maka jadi gak heran kalo ada review yang memplesetkan judul film ini menjadi, tiga hari yang kelamaan....)

namun tetap salut dengan keberanian Riri Riza mengangkat tema seksualitas dengan sangat terbuka di film ini.... mulai dari isu seks remaja pra nikah, isu gay, isu masyarakat yang memahfumkan budaya kawin-cerai, poligami, seks berkelompok (orgy), hingga isu seks incest..... wah, lengkap deeh... hueh, sampe heran kok bisa lulus badan sensor... saya saja nonton hingga berdebar-debar... sibuk berkonflik dengan diri sendiri... apakah saya amoral bila setuju atau tidak setuju dengan apa yang dikemukakan oleh film ini... pheeew, tiga bintang untuk film ini deeh...., saya doakan mudah2xan publik bisa menyikapi film ini secara dewasa dan film ini tidak menuai protes dari institusi2x tertentu di Indonesia

dan terakhir sebagai penutup......, perlu juga aaah saya acungkan jempol untuk kemeriahan suasana, budaya dan pemandangan (walau kurang banyak aaah..., harusnya bisa lebih) yang ditawarkan dalam perjalanan tiga hari menuju yogya ini. bahkan secara pribadi, film ini setidaknya malah sukses membujuk saya untuk ingin mengunjungi tempat pemandian air panas di Subang dan ziarah ke Sendangsono, heheheh........... ada yang mau nemenin??

Sinopsis: Tiga hari untuk selamanya...
http://www.21cineplex.com/

Sebuah film tentang perjalanan dua anak muda dari Jakarta ke Jogjakarta. Perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu satu hari, ternyata menjadi perjalanan tiga hari yang tak terlupakan.

Riri Riza (Eliana eliana, Gie) mengangkat tema post-adolescent dalam bentuk road movie, bercerita tentang kegelisahan menatap masa depan dan keterasingan mereka menghadapi lingkungan tradisi keluarga dan kebebasan semu di negeri ini.

Melalui ‘3 Hari Untuk Selamanya’, sutradara Riri Riza mengangkat isu keseharian dalam kehidupan anak muda dengan gamblang dan apa adanya. Film ini telah mendapat kehormatan tampil di acara premiere Hong Kong International Film Festival dan Singapore International Film Festival dan mendapat sambutan yang antusias dari penonton dan pemerhati film internasional.

Film yang diperuntukkan khusus untuk dewasa (18 tahun ke atas) dan telah lulus sensor dengan 8 potongan oleh Badan Sensor Film ini diproduseri oleh Mira Lesmana dan kembali menghadirkan Nicholas Saputra ( Aktor Terbaik FFI 2005 untuk film GIE) dan Adinia Wirasti (Aktris Pendukung Terbaik FFI 2005 untuk film Tentang Dia).

Film 3 Hari Untuk Selamanya akan beredar di bioskop mulai 8 Juni 2007. Hanya Untuk 18 Tahun Keatas


Jenis Film: DRAMA
Pemain: NICHOLAS SAPUTRA, ADINIA WIRASTI
Sutradara: RIRI RIZA
Penulis: SINAR AYU MASSIE
Produser: MIRA LESMANA
Produksi: SINEMART & MILES FILMS
Homepage: http://www.milesfilms.com/3hari
Durasi: 112 min


ReviewReviewReviewMaaf, saya menghamili istri anda....Jun 26, '07 12:14 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Comedy
"nama kamu siapa?"
"mira..."
"singkatan dari apa?"
"miranti.."
"oh, miranti..., ah, tapi nama kamu jelek"
"ah, jelek? kenapa?"
"harusnya nama kau, mala..."
"mala??"
"iya..."
"singkatan dari malaikat...."
"ha?"

*kriukkk*

benar sekali pembaca yang budiman, semua penonton di bioskop sepakat untuk cekikikan sambil mengeryitkan alis dan menoleh ke kiri dan ke kanan .... selepas mendengarkan penggalan dialog perkenalan antara dibyo (agus ringgo) dan mira (mulan kwok) di atas. apa sehhh, dibyo gareenk deeeh..........

namun terlepas dr kegarengan tersebut yg akhirnya toh bikin cekikikan juga, film ini sepertinya memang dibuat hanya untuk menghibur penonton bioskop saja. tidak perlu berpikir susah susah, datang, nonton, cekikikan gak jelas selama sejam setengah dan pulang tanpa beban. begitu kan intinya film pada umumnya? bahkan film hollywood sekalipun... efek yang sama dapat saya rasakan saat nonton Scary Movie misalnya....

maka jangan dibandingkanlah dengan film2x rudy soedjarwo sebelumnya... tampaknya, bung rudi dan bung monty tiwa tengah terlibat tanda tangan kontrak secara komersial untuk bikin film banyak banyak tahun ini.... terutama film2x ringan yang bisa dan gampang dijual kepada publik.... jadi yaaa... harap maklum saja lah bila ada film2x seperti ini yang keluar untuk mengejar setoran....

saya sih senang2x saja.... jadi punya pilihan lain untuk nonton... buktinya saya lebih memilih noton film ini dari pada nonton film 'the bridge to terabitha' atau 'the hitcher', dan saya gak nyesal.... film ini menghibur banget kok...

seneng juga lihat casting para pemerannya yang pas... dibyo yg diperankan agus ringgo bermain cukup natural sebagai pengecut dan tukan tipu amatir..., expresi muka nya itu lho, dodol banget.... heheheh..... dan memang sepertinya karakter dibyo sengaja dibuat sebagai figur yang garenk di sepanjang film... namun yang paling garenk tentunya adalah si kribo, cowok temen kos dibyo.... yang sangat garenk tidak hanya dalam ucapan.. namun juga dalam tindakan.... misalnya, mengelus ngelus puting susunya sendiri dengan sikat gigi..... sambil bilang ke dibyo... "enak lho, mau coba?" (hueeek......)

lalu yang jadi bang lamhot...., casting perawakan nya sudah pas banget walau logat bataknya, ampun mak...masih harus diperbaiki.... payahnya lagi, potret lamhot di film ini agak buruk hingga akhirnya menuai protes dr keluarga besar marga simamora yang digunakan sebagai marga si lamhot.... kabar terakhir, produser film ini akhirnya terpaksa mengalah dan mengedit semua bagian film yang mengandung kata 'simamora', wah repot juga yaa........

ahem... dan mulan kwok sebagai mira, istri bang lamhot? btw, ini adalah karir perdana main film nya.... kenapa juga yaa om rudy tertarik ngajak neng mulan main film ini? apa sebagai salah satu jurus marketing film? mengingat neng mulan memang rada2x terkenal akhir2x ini?? gak tau juga deh.... gak penting juga sih sebenarnya harus neng mulan yang memerankan tokoh mira.... it could be anyone.... gak perlu mulan kwok.... gak ada bedanya..... lagian keknya kecantikan untuk jadi istri bang lamhot dan pacar nya dibyo, hueheheheh....

nah, bgmana dengan shanty? si neng shanty yang berperan sbg butet (adik lamhot) juga bermain natural.... shanty tampak sekali amat sangat menikmati perannya sebagai orang batak...... sehingga di beberapa adegan terlihat agak over kelakuannya.... capek deh denger shanty teriak2x gak keruan di sepanjang film.... dan masa tukang sayur mau di sunat gara2x harga telur naik?

maka satu kritik yang agak sensitif terhadap film ini adalah caranya melakukan penggambaran suku / ras tertentu, orang batak misalnya..... memang terlihat penggambaran tersebut dibuat semata mata hanya untuk kepentingan kelucuan adegan dalam film... tapi kok agak keterlaluan juga sih kalau saya perhatikan... sepertinya stereotip orang batak terlalu over expose.... padahal kan belum tentu orang batak perangai nya seperti itu ...... ya gak??? hayo batak2x komentar.....
(atau nonton dulu filmnya baru komentar ;p)

eh tapi kembali saya tegaskan....., film ini cukup menghibur kok buat di tonton. bintang tiga deh ... karena berhasil buat gw cekikikan gak jelas satu jam setengah dalam bioskop..... asal jgn tanya pesan apa yang ingin di sampaikan oleh film ini yaaa... just come, sit, watch and enjoy ...... no big deal...

(",) -e

Sinopsis: "Maaf, saya menghamili istri anda....."

Dibyo (Ringgo Agus Rahman), pengangguran yang sangat terobsesi menjadi artis terkenal. Meskipun sering bermain di sinetron, tapi hanya sebagai figuran. Tidak hanya itu, dalam menjalin hubungan dengan wanita pun ia kurang beruntung. Namun saat bertemu dengan Mira (Mulan Kwok) hubungan mereka malah mengakibatkan Mira hamil. Mira meminta Dibyo untuk bertanggung jawab

Dibyo langsung saja setuju untuk menikahi Mira, tapi tidak semudah itu menikahi Mira. Ternyata Mira berstatus istri orang walau sudah pisah ranjang. Mira meminta Dibyo agar meminta pada suaminya, Lamhot, seorang preman untuk bisa menikahinya, sekaligus membujuk Lamhort agar mau menandatangani surat cerai. Tapi kemudian persoalan lain timbul ketika terjadi kesalahpahaman dan membuat Lamhot memaksa Dibyo harus menikahi Butet (Shanty), adik perempuan Lamhot. Siapakah yang akhirnya Dibyo nikahi? Mira atau Butet?

http://www.21cineplex.com/movie.cfm?id=1676
http://www.sinemart.com/maafsayamenghamiliistrianda/


ReviewReviewReviewReviewMengejar mas mas.....Jun 7, '07 12:57 PM
for everyone
Category:Movies
Genre: Romantic Comedy

Saya sebenarnya malas menulis review, karena mereview menuntut saya untuk berpikir. Tapi terdorong dengan semangat turut mempromosikan kebangkitan film Indonesia, maka saya ingin memulai kolom review di blog ini. Dengan sangat kebetulan, film pertama yang sangat pas untuk memulai kolom ini adalah Mengejar mas mas...

Diluar dugaan, saya sangat menyukai film ini. Walaupun ketika membaca sinopsisnya, saya sedikit khawatir dengan jalan ceritanya yang agak agak luar biasa. Seorang anak manja Jakarta, bertengkar dengan orangtua, melarikan diri ke Yogya, diselamatkan pelacur, jatuh cinta kepada pengamen. Apa sih yang ingin disampaikan Rudy Soejarwo?

Cara mencinta, saya sangat terkesan dengan cara film ini menyampaikan cara mencinta yang cukup merakyat, tidak hanya lewat dialog-dialog nya yang sederhana namun pas mengena, namun juga lewat banyak adegan-adegannya yang mengharukan.

"Kok, anggrek?" kata Shanaz kepada Parno. "Habis mawar, mahal,' jawab Parno sumringah. Kemudian Parno mencukur janggutnya, mengganti pakaian dengan kemeja pink dan jeans demi janji kencan bersama Shanaz.

Parno bertanya kepada Ningsih, "Jawab sejujurnya, kenapa kamu perbaiki rem sepedaku, Ning?" Pada jawaban kedua, Ningsih akhirnya menjawab, "Aku hanya kasihan pada Shanaz yang harus merawat benjutmu berkali kali. Kan lebih baik aku perbaiki rem sepeda mu. Sekali." Lalu Ningsih pergi, Parno terpekur dan Shanaz mengemas pakaiannya.

Selain itu, hampir semua adegan sedihnya berhasil mengharu-birukan emosi. "Jangan nunduk, ayo tegakkan kepala mu sambil jalan. Kita kan tidak salah, tidak boleh nunduk," bisik Ningsih kepada Shanaz sambil terisak ketika terusir paksa dari tempat tinggalnya. "Ini mas Parno, ojek sepeda yang sudah nganterin aku keliling Jogja," kata Shanaz menghindari tatapan Parno saat dijemput Mika, pacarnya.

Itu hanya beberapa dialog dan adegan yang saya kutip bebas, dan menurut saya cukup berkesan. Semuanya dengan makna tersirat, namun dengan mudah penonton dapat bersimpati dengan perasaan-perasaan yang tersurat dalam dialog atau adegan tersebut.

Salut untuk Monty Tiwa sebagai penggarap skenario. Salut sekali lagi dengan garapan soundtracknya. Setidaknya saya menjagokan tiga soundtrack; Kosong, Caramu, dan Aku Mencintaimu. Liriknya pas, musiknya apik, penyanyinya Monty Tiwa juga.... (wah, ini maksudnya mau hemat apa gimana siy??))

Bintang empat deh untuk film ini
Mohon maaf bila bingung dengan cara reviewnya...
Nonton aja deh biar ngerasain sendiri (",)


Sinopsis:
Shanaz - 17 tahun, (Poppy Sovia) menjadi remaja pemberontak sejak ayahnya meninggal. Ketidakharmonisan dengan sang Ibu memuncak saat Ibunya akan menikah lagi. Ia memutuskan menyusul kekasihnya, Mika, ke Yogyakarta, namun Mika pergi mendaki gunung. Di tengah kegalauannya dan tanpa uang, Shanaz terdampar di sudut kota yang ternyata sarang lokalisasi kelas bawah Yogyakarta

Ningsih (Dina Olivia), seorang PSK bersimpati pada Shanaz dan tinggal bersamanya. Lama kelamaan Ningsih menjadi figur kakak dan ibu yang diimpikan. Shanaz. Shanaz juga berkenalan dengan Parno (Dwi Sasono), seorang pengamen campur sari dan mantan kekasih Ningsih

Ketulusan Parno ternyata meluluhkan hati Shanaz. Diam-diam ia menaruh hati pada Parno yang lebih tua 20 tahun darinya. Ternyata Ningsih masih menyimpan perasaan untuk Parno, begitupun sebaliknya. Saat Mika menjemput Shanaz untuk kembali ke Jakarta, justru Shanaz ragu

Keputusan apakah yang akan diambil oleh Shanaz?

http://www.mengejarmasmas.com/


ReviewReviewReviewReviewReviewRiding the Iron RoosterNov 16, '06 6:23 AM
for everyone
Category:Books
Genre: Travel
Author:Paul Theorux
"The world seems to grow smaller every day. Travelers cross oceans and continents in the blink of an eye. But the world is not so small that there is no room left for adventure and discovery. In Riding The Iron Rooster Paul Theroux invites you to join him on the journey of a lifetime— a journey in the grand romantic tradition."

"Vowing to reach the other side of the world without jet lag, Theroux began his odyssey in London. He traveled by train across Europe, through the vast underbelly of Asia, and into the heart of Russia. But the crown jewel of his journey was China itself. Here is a magnificent land and an extraordinary people as you have never before known them: China by rail, as seen and heard through the eyes and ears of one of the most intrepid and insightful travel writers of our time."

More in http://www.paultheroux.com

© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help