23 aug 2007
setiap kali bertemu Nalin di depan pintu masuk ruang pameran, ia pasti menaikkan alis nya dan bertanya, so gimana??? jadi gak???.... huhuhu, Nalin.... saya mauuuu.... tapi gimana ini waktunya?? sepertinya mustahil saya spare waktu seharian untuk dapat menyaksikan festival Esala Perahera di Kandy yang berjarak kurang lebih 3 jam perjalanan dari Colombo. itu kan artinya 6 jam di perjalanan dan belum lagi jumlah jam yang harus saya sediakan untuk menyaksikan festival nya. setidaknya saya harus punya waktu barang 10 jam atau nginap sekalian di Kandy...whoaaaaaaa.... not possible Nalin... not possible... i wish i wish i wish, i'll just take the city tour please.... dan Nalin pun menggelengkan kepala nya dan mengangkat bahu. up to you dear... but you havent been to Sri Lanka if you havent been to Kandy. ugh Nalin... please dont remind me.. please...
namun setelah kunjungan singkat ke museum nasional Sri Lanka dalam city tour yang dipaksakan di hari rabu pagi itu, saya malah jatuh terkesima melihat beberapa dokumentasi festival Esala Perahera di Kandy. Esala Perahera adalah salah satu festival penting di Sri Lanka dan hanya berlangsung dalam bulan Juli dan Agustus setiap tahunnya di kota Kandy di Sri Lanka. di abad ke 15AD Kandy adalah ibukota dari kerajaan terakhir di Sri Lanka sebelum kejatuhan bangsa tersebut dalam penjajahan portugis, belanda dan kemudian inggris. sebagai ibukota kerajaan, sdh menjadi tradisi bahwa Kandy harus menjadi rumah relik gigi buddha yang dibawa dari India ke Sri Lanka pada abad ke 4AD oleh pasangan bangsawan beragama buddha dengan nama Dantha dan Hemamala yang melarikan diri dari serangan kerajaan2x hindu di India.
dikatakan bahwa buddha pernah berkata, Sri Lanka akan menjadi rumah yang aman bagi pengikut buddha ribuan tahun lamanya. maka ketika relik gigi buddha ini pertama kali di terima oleh raja Kirti Sri Megavanna, penguasa Sri lanka saat itu, sang raja menjadi sangat gembira dan segera membangun wihara khusus untuk menghormatinya. setelah itu raja Kirti juga memerintahkan penyelenggaraan perahera (prosesi) publik setiap tahunnya untuk mendekatkan relik gigi buddha tersebut kepada umatnya.
namun seiring dengan perjalanan sejarah kerajaan2x di sri lanka, sering sekali terjadi perubahan poros ibukota kerajaaan di Sri lanka sehingga relik gigi buddha ini pun sering turut berpindah-pindah mengikuti perubahan tersebut. sebelum akhirnya di rumahkan di kandy, relik gigi buddha pertama kali dirumahkan di Anuradhapura (hiks, ibukota tua yang tidak sempat saya kunjungi), kemudian di Polonnaruwa, kemudian Dambadeniya dan juga beberapa kota lainnya. akhirnya dengan kejatuhan kerajaan terakhir di Sri Lanka, relik gigi buddha pun menemukan tempat peristirahatan terakhirnya. di Kandy, wihara Dalada Maligawa khusus dibangun untuk menjadi rumah relik gigi buddha dan sesuai dengan amanat Raja Kirti, tradisi perahera publik untuk mendekatkan umat pada relik gigi sang buddha tetap dipegang teguh di Kandy.
secara singkat dalam prosesi Esala Perahera ini, relik gigi buddha dan rumahnya dibawa keluar dari wiharanya pada sore menjelang malam dan kemudian di taruh atas Raja, seekor gajah suci pembawa gigi. di iringi dengan prosesi ratusan pendeta, penari, pemain musik, pembawa api dan gajah2x lain, Raja kemudian berjalan mengitari kota Kandy seraya membawa rumah relik gigi Buddha untuk dapat dilihat ribuan umat Buddha yang khusus datang berziarah ke kandy demi festival ini.
sambil merenungi sejarah festival kandy yang saya baca di museum nasional dan sambil melihat dokumentasi nya yang tampak kemilau dan spektakular, saya jadi tergerak untuk nekad...kapan lagi??? kesempatan gak datang dua kali.... dan hmmm.... sepertinya hari kamis sore setelah acara penutupan, mungkin bisa saya paksakan ke kandy. bisa tiba pukul 8an malam, melihat festival nya hingga pukul 10 -11 malam dan kembali tiba di colombo pukul 2 pagi, packing sebentar di hotel kemudian check out untuk berangkat ke bandara pukul 3 pagi karena harus mengejar pesawat kami pukul 7 pagi. ugh, rencana gilaaaa.... dan pasti akan melelahkan sekali... kurang lebih sama dengan perjalanan seharian jakarta-garut-jakarta hanya untuk melihat sampireun dan tidak menginap, ada yang mau nemenin gak yaaa?? lumayan sinting juga juga kalo sendirian...
wuih... untungnya gila bertemu gila... mas danny yatim dan ari yudha laksmana menyambut ide ini dengan girang. yuk yuk yuk ... why not while we're here... go crazy when we can!! maka saya pun segera menghubungi nalin yang disambut dengan setengah berteriak, you what??? crazy?? saat ia mendengar itinerary perjalanan yang kamu inginkan. but if you want it, fine.... i think it will worth the effort... have fun yaa... i'll make sure the car will pick you up after the closing ceremony at the front gate... thaaaaaaaaanks naliiiin, gw meloncat loncat kegirangan... akhirnya ke kandy jugaaa.... dan walau ketika pulang capeknya setengah ampuuuunn, beneran deh gak nyesel... karena it was really a spectacular show...
sebenarnya ada beberapa pilihan untuk menyaksikan festival Esala Perahera selama di Kandy. membeli karcis resmi tempat duduk dari pusat kebudayaan kota Kandy, membeli lokasi duduk di hotel2x atau rumah2x penduduk sepanjang jalan kota kandy, atau gratisan di balik pagar bersama masyarakat umum lainnya. namun karena kami datang terlambat, semua karcis telah habis, maka liputan berikut didapat dari perjuangan di antara kerumuman masyarakat umum yang ingin nonton gratis. jadi sedapetnya yaaaa......
p.s. :
selain relik gigi buddha di kandy, terdapat pula relik gigi buddha di Ling Guang Temple di Cina, Fo Guang Shan monastery di Taiwan, Shari-Den shrine of Engakuji temple di Kamakura, Japan. ada yg pernah ke salah satu tempat ini??
informasi lebih lanjut:
http://en.wikipedia.org/wiki/Kandyhttp://en.wikipedia.org/wiki/Esala_Peraherahttp://en.wikipedia.org/wiki/Relic_of_the_tooth_of_Buddha